“BON VOYAGE” Perjalanan yang Menyenangkan (Sampai Jadi Perwira). Part II
Agustus 05, 2018
Tulis Komentar
Part II - Perjalanan yang menyenangkan sampai jadi Perwira
Lanjutan BON VOYAGE - Part I
![]() |
| Bon Voyage" - Akpelni 49/N-Golf/Bendan/Smg. |
Hi gaes.. jumpa lagi kita..
Sebelumnya terima kasih untuk kalian yang
hari ini meluangkan kembali waktu untuk mendengarkan cerita saya.
Pada kesempatan ini saya akan melanjutkan
cerita yang kemarin. Berbicara mengenai bagaimana hidup di jaman dahulu dan
hidup di jaman sekarang, saya pribadi berpendapat bahwa jaman sekarang lebih
enak dari pada jaman dulu.
Karena saya termasuk pribadi yang mudah
beradaptasi, senantiasa mengikuti perkembangan jaman. Hidup di jaman sekarang
ini, semua sudah serba canggih. Seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa
patut bangga terhadap negara kita ini. Seharusnya kita banyak-bnyak bersyukur
hidup di jaman enak ini.
Awalnya saya sangat sulit gaesmenyesuaikan
perkembangan jaman ini, apalagi saya berasal dari keluarga yang bisa dibilang “keluarga
wong ndeso”. Orang tua dalam mendidik saya bisa dikatakan masih berpedoman pada
jaman dulu. Ya begitu gaes, sejak kecil saya termasuk anak yang kuper, jarang
bergaul dengan teman-teman sebaya.
Tempat tinggal yang berada di sebuah desa,
mungkin pikiran kalian hidup di desa itu enak, ada kebersamaan dengan
temen-temen, tetangga dan banyak saudara. Semua itu memang benar sih, mengingat
orang tua saya adalah seorang guru, jadi dalam mendidik anak pun sangat
berhati-hati.
Sejak duduk di sekolah dasar (pada saat itu
kalau ngga salah tahun 2001), sebenarnya di kampung saya ada sekolah dasar yang
dekat dari rumah (kurang lebih hanya 1 km dari rumah). Semua teman sebaya saya
rata-rata sekolah disitu. Bisa dibilang, satu kampung hanya saya yang sekolah
berbeda sendiri dari yang lain.
Saya disekolahkan oleh kedua orang tua saya
di sekolah dasar yang jaranya tidak jauh juga dari rumah, hanya sekitar 2 km
dari rumah. Sebenarnya jarak bukan masalah bagi saya, karena waktu itu selain
bekerja jadi guru, ayah saya juga mencari sampingan di pasar dan berjualan di
pasar. Karena lokasi sekolah saya waktu tidak jauh dari pasar, mungkin pikiran
orang tua sekalian pagi berangkat ke pasar, saya juga bisa ikut berangkat
bareng ayah.
Waktu itu, setiap pagi ayah saya sebelum
berangkat mengajar setiap hari jualan di pasar dulu dari jam 06.00 s.d. 09.00
WIB. Kebetulan pada saat itu jam mengajar ayah yaitu mulai jam 10.00 WIB. Jadi paginya
masih bisa kerja sampingan.
Setiap hari saya berangkat pagi bareng ayah. Karena
jam 10.00 WIB sekolah dasar sudah pulang dan ayah saya sudah berangkat
mengajar, jadi saya pulang kerumah terpaksa naik angkutan umum.
Hal yang masih saya ingat betul sampai
sekarang yaitu pada saat pulang naik angkutan umum, saya sering dibayarin oleh
seorang guru wanita yang kebetulan pulangnya searah. Saya tidak kenal sama
sekali dengan guru tersebut.
Mengingat pesan ibu, kalau ditengah jalan,
bertemu sama siapapun yang tidak kita kenal jangan sampai mau dikasih apa-apa,
apalagi diajak kemana-mana. Pesan ibu selalu saya ingat-ingat terus. Maklum namanya
anak seumuran SD masih ada rasa takut-takutya, apalagi dulu banyak beredar
berita tentang penculikan anak. Ngeri-ngeri sedap gaes.hihihi
Singkat cerita, kami (saya dan bu guru itu)
hampir tiap hari kami selalu bareng naik angkutan umum. Setiap jam pulang
sekolah kami selalu bareng menunggu di pangkalan angkot itu. Mungkin ibu guru
itu punyak anak seumuran saya kali ya.. karena setiap pulang bareng, saya
selalu dibayarin. Bahkan pernah dikasih uang jajan.
“Dik,
rumahnya mana? Kok pulangnya sendirian, berani ya?”
kata ibu guru itu.
“Rumah
saya Dsn. Nggringgit bu, bapak sama ibuk ngajar, jadi saya pulang sendiri”
jawabku seketika itu.
“Oh,
siapa namamu, sudah kelas berapa?” tanya ibu guru itu.
“Saya
Soma Arna bu, saya kelas 1” jawabku
“Pinter
ya, masih kecil sudah berani sendiri” ujar ibu guru itu
Saya hanya diam dan sedikit senyum. Ngga lama,
angkot sudah mau jalan. Dan kami segera naik agar tidak ketinggalan angkot.
Di dalam angkot pun saya duduk bersebelahan
sama ibu guru itu. Karena jarak dari terminal sampai rumah saya hanya 1.5 km,
jadi tidak perlu waktu lama sudah sampai depan gang. (rumah saya masuk gang
sekitar 200m).
Pas mau bayar, seperti biasa ibu guru itu
yang bayarin.
“Pak,
anak ini mau turun depan situ, biar saya saja yang bayar ya?”
kata ibu guru kepada pak sopir.
“Oh
iya bu” jawab singkat pak sopir.
“Dik,
uangnya di simpen saja buat kamu, sudah ibu bayar tadi. Ini buat kamu, buat
beli jajan” kata ibu guru kepada saya sambil memberi
selembar uang 5rb an. (anak seumuran SD dulu dikasih uang 5rb sudah termasuk
banyak.hahaha)
“Iya
bu, terima kasih” kata saya.
Lalu saya bergegas turun dari angkot tersebut
karena sudah sampai depan gang.
Oh iya gaes, di keluarga saya sangat memegang
erat etika, contohnya setiap kita menerima pemberian dari orang lain, kita
wajib mengucapkan terima kasih. Hal itu sudah ditanamkan sejak dini. Untuk itu,
saya sendiri sudah diluar kepala kalau menerima pemberian dari orang lain,
seketika itu juga saya bilang terima kasih.
Sampai dirumah pun saya ceritakan kepada ibu
kalau uang jatah saya buat ongkos pulang masih utuh dan saya selalu masukin
tabungan. Oh iya, ibu saya selalu mengajarkan saya untuk menabung sejak dini,
itulah mengapa saya sejak kecil suka banget menabung.
Awalnya ibu saya memarahi saya karena itu
tadi, saya tidak boleh menerima apapun dari orang lain yang tidak di kenal. Sebenarnya
sih ada benernya juga, disamping merepotkan orang lain, kita juga tidak tahu
pikiran orang lain yang belum kita kenal sama sekali kan.
Karena saya tiap pulang kerumah selalu dengan
cerita yang sama, akhirnya ibu saya berpikiran bahwa orang tersebut mungkin
adalah benar orang baik. karena tidak mungkin juga ada niatan jahat kalau
setiap hari selalu pulang bareng, apalagi dia seorang guru.
Disini ada hal yang menarik loh gaes, bahkan
kejadian waktu itu pasti akan selalu teringat di memori saya seumur hidup saya
nanti. ceritanya begini, waktu itu sekolah ada rapat. Seperti biasa, kalau ada
rapat kan semua murid dipulangkan agak cepat.
Waktu itu masih jam 09.00 WIB saya jalan kaki
dari sekolah menuju terminal. Ehh pas di tengah jalan, saya di panggil oleh
seorang ibu-ibu memakai pakaian sederhana, dan dengan tiba-tiba menggandeng
tangan saya untuk di ajak pulang bareng. (dalam hati saya, deg-deg an bercampur
rasa takut dan banjir pertanyaan di otak saya.hahaha)
“Loh
le, kok wes mulih? Kok dewekan? Bapakmu wes mulih mau, kios e wes tutupan, ayo
mulih bareng ak wae yo, ak bar blonjo ng pasar, nggowo barang akeh, mengko numpak
dokar, .” Kata ibu-ibu itu dengan kilatnya tanpa spasi.
“Bapak
isih ng pasar kok, iki durung jam 10” kataku (maklum, waktu itu saya belum
lancar bicara bahasa krama.hehehe).
“Aku
iki koncone ibukmu, omahku pengkol, wes gausah wedi mengko tak terke tekan
omahmu yo” kata ibu itu.
Karena tangan saya sudah digandeng menuju pangkalan
dokar, akhirnya saya pun terpaksa ikut ibu itu.
Singkat cerita, saya sudah ada di atas dokar.
Oh iya, saya lupa menjelaskan, dokar itu sebutan delman di daerah jawa, dan
pengkol itu desa sebelah kampung saya. jadi kalau mau ke pengkol itu lewat
kampung saya (searah). Makanya ibu itu ngotot sekali biar saya bareng
dia.hahaha.. wolesss buk, maklum anak kecil belum tau.. wkwkwk
Bener gaes, dalam hati saya takut banget
waktu itu, takut di culik lah, takut di bawa kabur lah, dan sebagainya.hahaha
duhhh malang sekali masa kecilku..
Singkat cerita, saya sudah lulus SD dan
melanjutkan sekolah di SMP. Banyak sekali cerita yang meyenangkan di masa-masa
SMP yang akan saya ceritakan pada episode selanjutnya..
(Next.
Part III, Part IV, .... dst, sampai nanti berlanjut terus, biar seperti
sinetron.hahaha)

Belum ada Komentar untuk "“BON VOYAGE” Perjalanan yang Menyenangkan (Sampai Jadi Perwira). Part II"
Posting Komentar
Jika tulisan ini layak untuk disebarluaskan, silahkan bagikan ke semua teman-teman sosial media baik manual (share link) atau dengan klik tombol bagikan yang sudah saya sediakan dibawah bagian akhir setiap tulisan.
Salam Satu Sea
"Di laut kita jaya, di darat kita berkarya"
Bravo - Pelaut Indonesia
Terima kasih